Transformasi Kekuasaan Politik: Dari Sistem Tradisional Menuju Modernitas dalam Konteks Diplomasi Nusantara

Authors

  • Devi Amara Universitas Jambi
  • Rani Simarmata Universitas Jambi
  • Irhas Fansuri Mursal Universitas Jambi

DOI:

https://doi.org/10.63082/jksh.v2i3.47

Keywords:

Diplomasi, Kolonialisme, Modernitas, Nusantara, Transformasi Politik

Abstract

Transformasi kekuasaan politik di Nusantara dari sistem tradisional ke modernitas penting dikaji untuk memahami karakteristik unik diplomasi Indonesia. Penelitian ini menguji hipotesis bahwa perubahan sistem politik menciptakan sintesis antara nilai tradisional dan prinsip modern dalam praktik diplomasi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode perbandingan  sejarah, data primer diperoleh dari dokumen  sejarah dan  arsip diplomasi, sedangkan data  sekunder dari  literatur  akademis. Hasil menunjukkan sistem kekuasaan tradisional berdasarkan legitimasi kosmologis dengan diplomasi simbolis melalui pernikahan dinasti dan pertukaran hadiah. Kolonialisme Eropa mengubah diplomasi menjadi kontraktual berdasarkan hukum. Pasca-kemerdekaan, Indonesia mengembangkan diplomasi Bebas Aktif yang memadukan nilai tradisional seperti musyawarah dengan prinsip kedaulatan modern. Temuan ini penting untuk memahami keunikan diplomasi Indonesia yang berbeda dari praktik diplomasi Barat, serta relevansinya dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer  di tingkat regional dan global.

References

Supomo, S., Sejarah Nusantara: Dari Prasejarah hingga Modern (Jakarta: Balai Pustaka,

, hlm. 177–210.

Syamsuddin, H., Indonesia dalam Arus Sejarah: Kolonialisme dan Nasionalisme

(Jakarta: PT Gramedia, 2007), hlm. 66–118.

Moedjanto, G., Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram

(Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 33–76.

Slamet-Velsink, I., Islamisasi Jawa: Wali Songo, Politik, dan Kekuasaan di Jawa Abad

XV–XVI (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 97–140.

Kartodirdjo, S., Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama, 1992), hlm. 78–112.

Poeponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (eds.), Sejarah Nasional Indonesia Jilid II:

Zaman Kuno (Jakarta: Balai Pustaka, 2010), hlm. 211–250.

Lapian, A. B., Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad

XIX (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hlm. 89–120.

Alisjahbana, S. T., Sejarah Perdagangan di Indonesia (Jakarta: Gunung Agung, 1966),

hlm. 101–135.

Ricklefs, M. C., Sejarah Indonesia Modern 1200–2004 (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,

, hlm. 45–102.

Abdullah, T., & Surjomihardjo, A., Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif

(Jakarta: Gramedia, 1985), hlm. 45–67.

Kartodirdjo, S., Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional

(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 15–42.

Anwar, R., Diplomasi Indonesia: Sejarah dan Dinamika (Jakarta: Kencana, 2017), hlm.

–55.

Sartono, K., Pemberontakan Petani Banten 1888: Kondisi, Jalan Peristiwa, dan

Kelanjutannya (Jakarta: Pustaka Jaya, 1993), hlm. 5–28.

Downloads

Published

2026-03-19